Subscribe:

Ads 468x60px

Khalifah Umar dan Gadis Penjual Susu



tadi siang setelah Shalat Dzuhur, terinspirasi oleh sebuah cerita mengenai Umar Bin Khattab, begini ceritanya "eng ing eng....

suatu hari Khalifah Umar ibn Khattab berjalan-jalan di malam hari di kota Madinah untuk mengontrol situasi kota Madinah dan mengecek kebenaran berita para menteri dan walikota tentang keadaan rakyatnya.


Saat itu Khalifah mengajak seseorang sebagai temannya, Ketika mereka akhirnya kecapaian, mereka pun bersandar di sebuah dinding rumah penduduk. Tak lama Khalifah Umar mendengar seorang ibu yang tinggal di rumah itu menyuruh anak gadisnya untuk mencampur susu yang akan mereka jual keesokan harinya dengan air. 

Si gadis menolak.“Apakah ibu tidak mendengar pesan Khalifah Umar agar kita tidak mencampur susu dengan air?” kata si anak gadis itu. Lantas sang ibu berkata, “Kau turuti sajalah perintahku, di sini sekarang tidak ada Khalifah” Lalu anaknya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Memang benar Khalifah saat ini tidak berada di sini, tapi bukankah Tuhan Khalifah selalu memperhatikan kita? Aku tidak mau berbuat maksiat kepada Allah, juga tidak mau melanggar peraturan dari Khalifah” 

Umar bin Khattab yang mendengar perkataan si gadis shalihah tadi lantas pulang dan memanggil anaknya yang bernama ‘Ashim. Ia ingin menikahkan anaknya dengan gadis penjual susu tersebut. ‘Ashim setuju, maka si gadis penjual susu itu pun menjadi menantu seorang Khalifah yang terkenal dengan keadilannya, Umar bin Khattab. Hasil perkawinan yang penuh berkah ini melahirkan seorang putri yang shalihah yang kemudian dari rahimnya lahirlah seseorang yang terkenal bertaqwa, zuhud dan adil, Umar bin Abdul ‘Aziz.

Umar bin Abdul ‘Aziz, yang lebih dikenal dengan Khulafaur Rasyidin yang kelima itu mewarisi ketaqwaannya dari neneknya, sang penjual susu tadi. Lihatlah bagaimana seorang perempuan yang shalihah bisa mencetak generasi qur’ani. Dikisahkan bahwa pada salah satu lebaran, putri-putri Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz meminta baju baru untuk menyambut lebaran tersebut. Ketika itu Umar bin Abdul ‘Aziz sedang tidak memiliki uang. Setelah didesak oleh putri-putrinya maka beliaupun memerintahkan pegawainya yang bertugas menjaga baitul mal untuk mengeluarkan gaji bulan depannya. 

Ternyata si pegawai ini tidak mau melaksanakan perintah Khalifah. Dia berkata, ”Apakah Anda ingin mengambil gaji bulan depan Anda? Apa Anda yakin akan hidup sampai bulan depan (sehingga Anda berhak atas gaji itu)?” Lalu Khalifah menepuk kepalanya dan berkata pada pegawainya tersebut, “Sungguh kamu diberkati karena telah menjadi pemberi nasehat yang amanah” Kemudian Umar bin Abdul ‘Aziz menoleh kepada putri-putrinya dan berkata, “Apakah kalian mau memakai pakaian baru sedangkan ayah kalian masuk ke dalam neraka karena itu?”

selain itu dikenal juga di zaman Umar bin Abdul Aziz rakyatnya sangat makmur tidak ada yang miskin, yang miskin hanyalah keluarga kerajaan. Subhanallah

sangat jauh dibandingkan dengan pemimpin kita bahkan dengan kualitas diri kita sekarang, coba jawab,  

jika anda menjadi seorang Presiden "maukah menikahkan anak anda dengan penjual susu yang shalihah ?"
beranikah kita mengatakan tidak, jika diminta untuk berbuat tidak jujur?
atau apakah kita bisa menjadi pemimpin yang mendahulukan kesejahteraan rakyat seperti Umar Bin Abdul Aziz? 

Wallahu Alam

Artikel Terkait:

4 comments:

Eka Hary said...

caritanya bagus gan ane jadi terinspirasi hee

abu4faqih said...

Subhanallah ... pelajaran yang berat.

Barokallahu fik :)

Ecky Agassi said...

Subhanallah, menginspirasi.
nice share :)

Azzam Kafie said...

Thanks guys responnya..

Post a Comment